Senjapun Menangis

Hujan masih menunjukan sisa – sisanya, sisa tetes airnya seperti manik – manik bening yang menempel di setiap kaca, genangan airnya menggenangi setiap lubang tanah, bekas ban mobil, bekas telapak kaki pak udin yang biasa membersihkan taman, rumput – rumput masih kedinginan, bunga – bunga lunglai karena lelah, capai sesudah bermain – main dengan angin, aku rindu burung yang biasa terbang berkejaran dengan kupu – kupu, mengapa kau tak tampak takutkah kau dengan dinginya air hujan seperti takutnya aku akan kegelapan dan kehujanan.

Aku masih disini entah sudah berapa lama, sebelum hujan turun sampai ia berhenti turun lagi dan berhenti lagi, entah sudah berapa kali, mungkin sampai langit kehabisan air, aku akan tetap disini menunggunya, karna ia berjanji akan selalu datang untukku, ia rela mendaki puncak gunung tertinggi untuk memetikkan edhelwais untukku, atau dikejar-kejar anjing karna memetik mawar putih kesayangan putri pak herman ditaman belakang rumah pemilik tempat latihan bulutangkis ini, Aku tak percaya jika hanya karena hujan ia akan mengingkari janjinya untuk datang. Pesan terakhirnya membangun segudang pertanyaan dalam hatiku. Memberi aku kekuatan untuk tetap bertahan disini.

Sudah 3 kali panggilan Robbi terdengar, sayup – sayup dari masjid dan mushola, menyusup tiap lorong – lorong alam semesta, singgah ditelinga tiap umat manusia, ada yang menbiarkanya berlalu bersama hembusan angin, ada pula yang menghiraukan tapi menunggu hingga beberapa waktu kemudian datang menghadapnya, hanya sedikit yang menangkap menimbulkan gerak reflek dan langsung bersimpuh dihadapanya,

Kali ini aku termasuk yang ke 3, kubasuh mukaku berharap nanti memberi ekspresi yang gembira, kubasuh tanganku dengan sejuta harapan, kubasuh kakiku berharap ia sabar untuk tidak berjalan meninggalkan taman ini, segera aku bersimpuh dihadapanya dan kupanjatkan Doa “Ya Allah semoga hari ini aku mendapatkan kabar baik.” Lalu aku kembali ketaman.

Aku benci gelap, aku benci kehujanan, tapi aku mencintainya, aku tak akan beranjak dari sini sebelum ia datang dan mengajakku pergi jauh, ketempat yang hangat dan terang, Aku lapar, aku haus,  aku capek, tapi aku tak ingin pergi, karna aku percaya ia pasti akan datang, mangendap-endap dan mengagetkanku dari belakang, sengaja membuatku merajuk lalu memujiku hingga membuat mukaku merah karena malu, yah… aku akan menunggu ia sampai datang.

Mungkin kau menganggapku bodoh, mencela orang yang gila karna cinta, mengolok – olok orang yang buta karna cinta, mencibir orang yang tuli karna cinta, sebelum kau rasakan sendiri apa itu cinta, Mata, telinga, fikiran, tuhan yang menciptakan, cinta, tuhan pula yang menciptakan, jangan salahkan mata ketika  ia tak bisa melihat dengan sempurna, jangan salahkan ketika telinga tak mendengar dengan seksama, jangan salahkan fikiran ketika ia tidak bisa berfikir seperti adanya, karna cinta mampu mengendalikan semuanya,

Puitis memang, tapi itu benar adanya, Aku bukan pemuja cinta, tapi aku tak berdaya karna cinta, seperti sekarang ini, tanpa kusadari tiba-tiba semua gelap.

Aku tidak ingat apa-apa yang kutahu aku sudah berada dirumah kak anang orang yang sudah menganggapku sebagai adik,

“dik ayu sudah sadar, sudah agak baikan?

Aku hanya menganggukan kepala

“ kakak menemukanmu di bangku taman saat kakak mau berangakat latihan bulutangkis, kamu sudah tidak sadar.”

Kak anang mengambilkan aku segelas air

“maafkan kakak, ini semua salah kakak, tadi pagi kak Lud menitipkan surat ini kapada kakak, untuk disampaikan kepadamu, tapi kakak lupa kalau siangnya kakak harus mengantar adik kakak dan mengurus segala administrasi asrama barunya, kakak tahu kamu pasti akan menunggu ditaman, kakak sudah berusaha menelephonmu tapi tidak bisa. Kakak tak mengira kalau kamu akan menunggunya sampai malam.”

“maaf kak HP ku dari tadi siang lowbat dan aku tidak bisa kemana-mana karna hujan tidak berhenti dari tadi siang”

“maafkan kakak ya, kak lud tidak bisa menemuimu, ia hanya pesan, menyuruhku menemanimu saat kamu membaca surat darinya,”

Kak anang menyerahkan surat itu berlahan kubuka dan kubaca.

Bersambung………… tolong dibaca kelanjutanya ea….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: