Surat Cinta Dari Ustadzku

SURAT CINTA DARI USTADZ KU

Maya berjalan cepat sekali ia masuk sebuah gedung dekat masjid, rupanya itu sebuah kelas tempat Santriwan – santriwati ( Panggilan Anak – anak yang mengaji) TPA (Taman Pendidikan Alqur’an ) belajar membaca Al-Qur’an. Ada satu ruang besar yang di bagi menjadi 3 ruang tiap bagian hanya di sekat dengan kain kelambu. Ruang yang pertama tempat anak – anak kelas 1 terdiri dari Iqro’ 1 dan 2, ruang yang ke 2 kelas II terdiri dari Iqro’ 3 dan 4 sedang yang terakhir kelas III yaitu terdiri dari Iqro 5 dan 6.

Setelah khatam Iqro’ 6 biasanya masuk kelas kelas fasohah yaitu kelas pasca Iqro’ atau pra Al-Qur’qn, kelas ini bertujuan untuk beradaptasi membaca Al – qur’an jika langsung ke Al-Qur’an anak akan lebih sulit untk membaca Al-qur’an, untuk itu di adakan kelas fasohah yang materinya terdiri dari bacaan surat – surat pendek dan potongan ayat Al-Qur’an, kelas fasohah ini berada di sebelah satu rung dengan kelas tartil ( Sebutan untuk santri Yang elah mengikuti materi Al – qur’an)

“Maaf kak Reni Kak Imanya di mana ya…” Maya bertanya kepada Reni yang sedang mengajar kelas 2

“Em… tadi saya lihat di kelas I, ada perlu apa ya… “

“Nggak kok , nggak ada apa – apa maya cuman pengen nanya aja, Makasih ya kak reni.”

Maya langsung menuju ke ruang kelas I disana ima tengah mengajar kelas I membaca Iqro’ sambil memegang penggaris yang di arahkan ke papan tulis.

“Ini di bacanya apa anak – anak …….”

“Baaaaaaa….” Jawab anak – anak serempak

“Eh… Nggak boleh panjang, harus pendek “Ba” ayo ikuti kakak “Ba.”

“Ba” jawab anak – anak serempak pula

Ima membaca huruf – huruf Al-Qur’an yang tertera di papan tulis dan anak- anak pun mengikuti dengan serempak pula, setelah selesai ima mendekati maya.

“Ada apa dik maya… ”

“Kak Ima may pengen ngomong sama kakak, penting banget.”

“Gimana kalau nanti malem aja, so’alnya kali ini kakak lagi sibuk, kamu nggak mau kan ngorbanin anak – anak hanya demi kepentingan kamu, oh ya nanti malem kamu ikut ngaji tafsir kan”

“Ya sudah… nanti malem maya tunggu di depan masjid ya kak “ Maya pergi meninggalkan ima.

***

Maya dan Ima pergi ke masjid untuk sholat Isya’ setelah selesai mereka bersiap –siap menerima pelajaran tafsir.

Setelah selesai berjabat tangan dengan teman – temanya Maya dan Ima keluar dari masjid, mereka berjalan ke pondok putri, tak di sengaja mereka bertemu dengan Abdullah Awaludin yang juga baru selesai mengikuti pelajaran tafsir

“Eh kak Udin… mau pulang juga ya… biasanya kakak berbincang – bincang dulu dengan pak ustadz” sapa Ima .

“Iya, ada tugas kuliah yang harus aku kumpulkan besok, jadi harus cepet – cepet pulang, eh maya… Gimana may sudah…”

Maya menundukkan kepala

“Nggak apa – apa jangan terburu – buru aku mau kamu memikirkanya dengan matang” kata awaludin dengan penuh wibawa.

“Ada apa sich may…” kata ima dengan wajah penuh Tanya

“Nggak ada Apa – apa kok kak ima…  Eh maaf ya kak udin kami harus cepet – cepet pulang”  Maya pergi meninggalkan awaludin sambil memegang tangan ima dengan paksa.

“Aduh may… Sakit ni… ada apa sich may, kakak kan pengen ngobrol dulu sama kak udin.”

“Ayo donk kak kita harus cepet – cepet, kan sudah malam nanti kalau ketahuan ketua kelas aku di suruh balik ke kamar.”

Mereka menuju rumah ustadz jalal pengasuh pondok pesantren tempat maya menuntut ilmu karena ima tinggal di sana, rumah ustadz jalal berada di sampig kanan pondok putri, setelah sampai mereka langsung masuk ke kamar ima.

“Ada apa sich may… kayak di kejar setan saja, kakak kan pengen ngomong dulu sama kak udin” Ima agak kecewa dengan tindakan maya tadi.

“Kak Ima, Maya pengen ngomong sama kakak, ini juga menyangkut kak udin”

“Ada apa dengan kak udin” kata ima sedikit kaget

“Kak Ima… kemaren kan ada tugas dari sekolah, jadi aku pinjem buku haditsnya kak udin, dan… Di dalamnya ada ini…” kata maya sambil menyerahkan secarik kertas yang di ambil dari sakunya kepada Ima.

Dengan agak ragu Ima mengambilnya dan berlahan membuka kertas itu lalu membacanya.

Kepada,

Orang yang selalu menggangu fikiranku

Maya Khusnul khotimah

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Duhai yang lembut suaranya, duhai yang cantik perangainya, duhai yang baik hatinya, Subhanalloh… maha suci Allah menciptakan mahluq berparas cantik seperti dirimu dengan begitu banyak keistimewaan, andai saja memandangmu adalah halal bagiku, ingin rasanya aku memandangmu setiap saat, setiap waktu, bahkan sedetikpun tak ingin ku lewatkan tanpa memandangmu. Andai saja air segar saat kekeringan bisa menebus dosa kan ku berikan air itu asal aku bisa memandangmu tanpa dosa

Lewat secarik kertas dengan goresan tinta ini aku ingin kau tahu, ada maya dalam setiap mimpiku, ada maya dalam setiap hembus nafasku, ada maya dalam setiap detak jantungku, ada maya dalam denyut nadiku, dan tak lupa selalu ada maya dalam detiap do’a – do’a ku.

May… maukah kau menjadi ibu dari anak – anak ku kelak.

Aku selalu berdo’a semoga engkau yang di kirimkan Allah tuk menjadi pendamping hidupku, semoga aku diberi kesempatan untuk hidup bersamamu, semoga keinginanku mendapat sambutan yang hangat darimu, semoga Allah memaafkanku karena selalu memikirkanmu. Entah berapa banyak lagi kata semoga yang ku panjatkan untukmu…

May… tahukah kamu sesungguhnya sudah sejak lama aku ingin melamarmu, tapi… aku tidak tahu harus kepada siapa aku melamarmu karena aku tidak mengenal satu pun dari keluargamu, untuk itu aku melamarmu lewat secarik kertas ini, maaf jika caraku sedikit tidak sopan, setidaknya ini bisa mengobati keinginanku yang begitu kuat untuk melamarmu.

May… maaf jika ini tidak kau sangka sebelumnya, sungguh ini adalah keinginan yang tulus dari hatiku, maaf jika karena surat ini mengganggu fikiranmu, aku tidak bisa menunggu sampai kamu selesai ujian karna keinginanku yang begitu kuat  untuk melamarmu. Aku harp kamu bisa memakluminya

Dan yang terakhir aku berdo’a selalu semoga engkau bisa lulus ujian dengan nilai yang memuaskan, dan atas suratku ini aku berharap kamu sudi membalasnya.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Yang Selalu mecintaimu

Abdullah Awalludin

Ima melipat kembali surat itu, seketika wajahnya pun berubah murung, ia mengambil tissue di atas meja dan mengusapkan kemukanya

“ Kak ima may mesti gimana kak…”

“Heh…”  ima menghela nafas panjang“ Ternyata adikku sudah besar ya… Sebentar lagi lulus ujian, dan mungkin akan menjadi nyonya Maya Abdullah, kakak masih ingat, dulu saat kamu baru masuk pesantren ini kamu manja… Banget, tak terasa ya 6 tahun telah berlalu sekarang kamu sudah mengenal cinta, inget nggak saat ngaji di TPA dulu kak udin yang selalu menghibur kamu saat nangis”  kata ima dengan tersenyum

“ Kak ima jangan ngomong itu lagi dech, may kan jadi malu… anak kecilkan semua sama, kakak dulu pasti juga cenngeng gitu …”

“Nggak tu… kakak dulu sejak kelas 4 sudah boboq sendiri, sudah menjuarai lomba CCA ya… walaupun hanya tingkat Kecamatan, nggak seperti kamu cengeng…”

“Ah… kakak nggak usah ngledekin may gitu  dech… trus ini gimana… kak udin minta jawabanya lo kak.” Kata maya dengan manja.

“Menurut kakak, kak udin itu… ustadz yang baik, pinter, rajin beribadah dah dewasa lagi, sebentar lagi juga lulus kuliah, mungkin sebentar lagi dia akan jadi guru mengikuti jejak ayahnya, jadi….. nggak ada alasan lagi buat kamu untuk nolak dia. Ya… tapi itu cuman pendapat kakak keputusan mutlak ada pada kamu,”

“Oh ya… 1 lagi, jangan lupa istiqoroh,”

“Iya sich, may tahu kak udin begitu berbeda dengan ustadz lain, tapi… kalau may menerima lamaranya trus kakak gimana….?” Kata maya sambil memainkan ujung jilbabnya.

“Aku gimana….? Maksud kamu apa sich may kakak nggak ngerti” ima sedikit kaget dengan ucapan maya

“Tuh… khan… sama may aja kakak bohong, kayak may siapa ajah,  may tahu sejak dulu kakak itu selalu memperhatikan kak udin, kakak suka kan sama ustadz ganteng itu… tapi kenapa sich kak, kakak selalu diam…”

“ Kenapa sich may kita kok jadi ngomongin kakak, ini kan masalah kamu, kamu kan yang dapat surat itu.”

“Iya aku yang dapat surat itu, tapi ini juga berhubungan dengan kakak, karena kakak mencintai kak udin.”

“Kamu tahu apa sich may tentang kakak.” Ima berbicara agak keras.

“May tahu…. Sejak dulu kakak suka sama kak udin, itulah sebabnya mengapa kakak selalu menolak setiap lamaran, meskipun lamaran itu dari gurunya may, walaupun kakak selalu bilang bahwa kakak masih kuliah dan belum memikirkan untuk menikah, tapi may tahu bahwa sebenarnya lamaran kak udinlah yang kakak tunggu.”

“May… kak udin adalah kakak ku dan selamanya akan jadi kakak ku. Itu yang selalu kak udin bilang”

“Ya… memang kak udin bilang begitu, tapi may tahu kakak mencinyainya, kakak rela meskipun hanya di anggap adik, asal kakak bisa selalu dekat dengan kak udin, iya kan…”

Ima menangis tapi dengan segera menghapus air mata itu, ia tidak mau kelihatan cengeng di depan maya.

“Kak ima… Maafin may ya… may tidak bermaksud membuat kakak sedih.” Maya merangkul ima, ia tahu ima sedang menangis meskipun ima berusaha menutupinya

“May akan menolak lamaran itu, may mau kakak yang menikah denganya, karna kakak yang lebih pantas mendapatkan kak udin.” maya pun tak kuasa menahan airmatanya

“May… mengapa kamu jadi sebodoh itu sich, ada saatnya kamu harus lebih mementingkan dirimu sendiri dari pada orang lain, misalnya, kamu mau sholat ada temanmu yang tidak membawa mukena, kamu tidak boleh meminjamkan mukena itu ke temanmu, kamu harus sholat lebih dulu karena sholat di awal lebih utama, begitu juga menikah, apabila ada laki-laki baik melamarmu kamu harus menerimanya, jangan menolak hanya karena ada teman baikmu yang mencintainya, karena menikah itu adalah sunnah nabi dan akan lebih baik jika kamu manjalankan lebih dulu, bisa jadi setelah ini tidak ada yang melamarmu sebaik laki-laki yang melamarmu tadi.”

“ Tapi kak… ”

“ Hus…. Nggak usah ngomong lagi… ”

Tok… tok… tok… ada yang mengetuk pintu kamar ima

“Ima… di panggil romo, katanya minta di kerokin sama kamu.” Ternyata ibunya yang memanggil, ima kaget dan dengan segera menghapus airmatanya

“Inggeh bu sekedap, mengken ima nyusul teng kamare romo.”

Maya merapikan jilbabnya mereka segera keluar kamar, ima berjalan menuju kamar ayahnya, sedangkan maya menuju pondok putri

***

Kepada,

Yang sangat berharga dlm hidupku

Ustadz ku Abdullah Awalludin

Assalamu’alaikum wr wb

Kutulis ini kala hati sedang berbunga, bak mawat mekar setaman nan indah mewangi itulah yang ku rasa saat ini, tapi betapa sedih hati ini kala menyadari bahwa mawar itu bukanlah untuknya, bahwa ia tidak berhak memetik setangkaipun dari mawar itu.

Kakak… ku mohon jangan kau siksa aku dengan kata – kata itu, memang begitu manis di dengar, tapi tanpa di sengaja, bagai pedang yang dengan kasar menyayat hatiku.

Hanya orang bodoh yang menolak di peristri oleh kakak, aku bukan termasuk orang bodoh itu, tapi keadaan yang memaksa aku sehingga membuat aku sebodoh itu.

Kakak… maafkan aku, aku tidak bisa menerima lamaran kakak, karena sesungguhnya jodohku telah ditentukan orang tua ku di sana.

Aku masih ingat saat aku mengaji dulu, kakak selalu mengajarkanku sebuah ikrar yaitu ikrar santri, dan yang paling ku ingat adalah ikrar yang ke empat “Taat dan hormat kepada ayah dan ibu” kakak pasti ngerti maksudku aku tidak mungkin menolak perjodohan itu karena itu salah satu wujud taat kepada orang tua, aku juga selalu ingat hadits nabi yang menyebutkan bahwa surga itu berada di telapak kaki ibu dan aku tidak ingin kehilangan surga itu, maaf aku tidak bermaksud menggurui orang yang sudah menjadi ustadz.

Kakak… maafin aku ya… sungguh aku tidak bermaksud menyakiti kakak. Kakak… tanpa kakak sadari sebenarnya ada orang yang lebih berhak memetik mawar itu, ada yang lebih berhak menerima pujian itu, aku minta bukalah pintu hati kakak untuk menerima dia, dia lebih pantas mendapatkan kakak dari pada aku.

Dan yang terakhir aku juga selalu berdo’a semoga kakak segera menemukan orang yang bisa dengan leluasa kakak pandang kecantikanya tanpa dosa

Wassalamu’laikum wr wb.

Maya Khusnul Khotimah

Tanpa sengaja awaludin meneteskan airmata ia terharu membaca surat dari maya “siapakah orang yang berhak memetik mawar itu” ia masih memikirkan isi surat maya “Mungkinkah Ima putri ustadz jalal yang anggun, cerdas, serta baik hati itu, yang sekarang satu kampus dengan ku, dia kan teman akrab maya, tapi… apakah mungkin seorang aku yang di cintainya. Andai dia orangnya takkan ku buang – buang waktuku aku akan segera melamarnya”

Awaludin menutup buku haditsnya dan surat maya yang terselip di dalamnya.

“Wah… wah…  udin, sejak kapan jadi sufi hingga membaca hadits begitu saja kamu teteskan air mata” Adit temanya menyapanya dari belakang sambil menepuk punggungnya.

“Ah kamu bisa saja… siapa yang nangis, sudah ayo kita berangkat ke kampus, oh ya… kamu kapan datang.” Tanya awaludin

“Baru saja… tadi kata ibumu kamu di kamar jadi aku langsung masuk saja.”

Adit dan udin berangkat ke kampus mereka bertemu dengan Ima, Ima berjalan dengan temanya sambil bercakap sesekali tersenyum, senyumnya maniz sekali, setelah berjalan 10 meter mereka berpapasan, dengan segera ima menundukkan kepala, Adit menyapa ima sedangkan Udin hanya berani mencuri pandang sedikit menatap wajah Ima yang putih bersih, tapi tatapan udin agak aneh, wah…   kayaknya ada sinyal ni… Apa yang terjadi selanjutnya ya…

Sekian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: