Pesan cinta lewat tugas matematika

PESAN CINTA LEWAT TUGAS MATEMATIKA

Siang ini aku capek banget, kalau saja bukan karena Drs. Hermansyah aku pasti sudah pergi jauh – jauh dari ruang yang lembab tanpa AC ini, Aku sudah rindu dengan masakan ibuku, sayur asemnya, sambal terasinya, juga ikan asinya, walaupun tak selezat masakan restoran, tapi menurutku masakan ibuku paliiing lezat.

Tapi aku dan kelima temanku tidak kuasa menolak keinginan pak herman yang baik itu, kami rela tetap berada di ruang yang berbau kaus kaki basir yang sudah satu minggu belum di cuci, ditambah lagi parfum yang menyengat ala si melly yang centil itu, aneh… walau mereka sudah pergi tapi mengapa ya baunya masih tertinggal. meskipun sekarang sudah waktunya pulang, meskipun aku harus melakukan pekerjaan yang paling tidak aku sukai MENGOREKSI apa lagi tugas itu bukan dari kelasku, tapi… itu semua setimpal dengan senyuman pak herman yang lembut itu,

Pak Herman guru yang paling aku sukai, karena beliaulah sekarang aku jadi suka pelajaran matematika, padahal dulu… males gila… umurnya sudah hampir setengah abad tapi tetap bersemangat seperti guru muda pada umumnya, beliau mengajar di 2 sekolah yang berbeda di SMA 3 dan di SMA muh tercinta ini, sekolahku maksudnya, menurut cerita beliau, hari senin, selasa, rabu, beliau ke Barat ke SMA 3 yang berjarak 15 km dari rumahnya, Hari kamis, jumat, Sabtu beliau ke Timur kesekolahku yang berjarak 18 km dengan mengendarai Honda Star yang sudah karatan, beliau juga bercerita motor itu beliau beli dengan uangnya sendiri, dengan menabung bertahun – tahun demi mempersunting bu Salma bunga desa itu, sudah 25 tahun pernikahanya, mareka dikaruniau 3 orang anak dan semuanya laki – laki yang bungsu seumuran denganku, aku tahu perjuangan beliau guru swasta yang menghidupi 3 orang anak, bahkan saat menjelang ujian kelulusan beliau tanpa henti memberikan bimbingan tambahan kepada siswanya sampai kadang – kadang bolak balik dari SMA 3 ke sini, hitung sendiri berapa jauhnya, hanya untuk tambahan uang yang tak seberapa, itu semua tidak sebanding dengan perjuangan beliau.

“Aya… Kok bengong, masih siap bantu bapak tidak.” Pak herman menyapaku dengan senyum khasnya

“Kalau sudah capek pulang saja, biar nanti bapak koreksi sendiri di rumah.” Kata pak herman masih dengan senyum lembutnya.

“Ah tidak kok pak, aya selalu siap Bantu bapak.” Aku pun tersenyum walaupun tidak manis.

Aku ngantuk banget, Nah… ini lembar jawaban yang terakhir, habis ini aku bisa pulang dech, pak Herman pamit keluar sebentar, sebenarnya kami sudah selesai mengoreksi tapi terpaksa menunggu beliau sampai kembali.

“Ay… dapat salam tu dari si Iyan, katanya smsnya tadi malem nggak loe balez ya…kenapa sich ay loe kok jutek banget sama Iyan, cowok sekeren itu loe jutekin, apa gara-gara kemaren sore dia kempesin ban sepeda loe, itu kan niatnya bercanda ay… Supaya loe mau diboncengin sama Iyan.” Cerocos lena yang sejak tadi di sampingku.

“Ngapain sich kita mbahas Iyan yang nggak penting itu.”

“Ya udah kalau nggak mau, nanti kalo udah di sabet orang aja, baru nyesel.” Lena pergi meninggalkanku.

Iyan… Cowok SMA 3 itu… keren sich, tapi aku nggak suka sikapnya yang terlalu agresif kepadaku, ketika berbicara di majelis dia berwibawa plus cool banget, tapi nggak tahu ya kalau sama aku nyebelin banget.

Ku kirim salam sewangi minyak kasturi

Salam indah seindah langit waktu senja

Salam sejuk sesejuk embun pagi

Salam hangat, sehangat mentari kala pagi

Satu yang ingin kusampaikan lewat salam ini

Maaf yang tulus dari hati

Sms itu dikirim Iyan tadi malam, kemaren sore saat les bahasa aku marah kepadanya karena dia kempesin ban sepedaku, tak sengaja aku menulisnya di salah satu tugas yang aku koreksi tadi, dan tugas itu dibawa pak herman, saat pulang aku baru menyadarinya.

***

Hari ini Pak Herman meminta kami mengoreksi lagi, aku tak sanggup menolaknya, beliau bilang akan meminjamkan novelnya, aku senang banget, Pak Herman memang hoby mengoleksi novel, novelnya banyak… banget, dari Siti Nurbayanya Marah Rusli sampai Maryamah Karpovnya Andrea Hirata. Beliau bilang putranya tidak bisa membantu beliau mengoreksi tugas, putranya yang pertama sudah berkeluarga, yang kedua kuliah di luar kota, dan yang terakhir agak tulalit gitu, eh maksudku keterbelakangan mental.

Hari ini beliau menraktir kami makan bakso di kantin, beliau bilang dapat rizki lebih karena baru saja mendapat kiriman dari putranya yang kuliah sambil kerja di luar kota, setelah itu kami mambantu beliau mengoreksi, ada setumpuk tugas dari SMA 3 yang siap dikoreksi, aku mulai mengambil satu per satu tugas yang di berikan pak herman, dan… ada yang aneh dengan tugas yang satu ini, ini kan tugas matematika, kenapa ada kata- katanya gini ya…

“Len… liat dech.” Aku memperlihatkanya kepada lena

Malam ini ingin ku sampaikan salamku pada semua bintang di langit

Tapi semua percuma, karna mereka nggak mungkin bisa mendengar

jadi kuputuskan tuk sampaikan salamku pada bintang yang gak buta huruf

Dan kamu bintang yang kupilih.

“Tugas siapa sich ay… sok sweet banget, eh ngomong – ngomong buat siapa ya salamnya ini.”

“Tau… buat kamu kalee…he… he… he…” ups… kata pak ustadz nggak boleh tertawa kenceng – kenceng.

“Terserah loe dech, nggak ada ruginya buat gue.” Lena pergi meninggalkanku, aku memperhatikan tugas itu.

Rizky ardiansyah, aku pernah mendengar nama ini, apa… tugas dia yang aku coret – coret kemaren ya…, iya… aku ingat tanda tanganya, apa mungkin… dia terkesan dengan kata – kataku dan sengaja membalas salamku, dan berharap aku membalasnya lagi, ye… tukang ngayal, mana dia tahu yang menulis itu aku, bisa saja pak herman. Tapi kok dia mengambil resiko menulis di tugasnya, apa dia nggak berfikir kalau nanti pak herman yang membacanya bisa berabe khan, ah ngapain sich aku mikirin tugas yang nggak penting ini…

Dan pada kesempatan mengoreksi berikutnya hatiku tergerak untuk mencari tugas Rizky Ardiansyah lagi, dan… aku kaget, mengapa ada lagi…

Aku Ingin menulis sesuatu tentang rinduku

Tapi aku tak ingin menulis apapun tentangmu

Kamu tahu, ini hal yang sulit

Karna kamu juga tahu

Jika seluruh rinduku selalu untukmu

Akhirnya aku punya ide untuk membalas kata-kata itu, dengan begitu aku bisa tahu siapa yang dimaksud Rizky.

Bagaimana aku bisa tahu rindumu

Jika kamu tak pernah menulisnya

Bagaimana aku tahu itu untukku

Jika kamu tak pernah isyaratkanya

Seperti Syair yang tak terdendangkan

Seperti lagu yang tak ternyanyikan

Aku menulisnya di lembar tugas rizky yang masih kosong dan berharap dia membalasnya lagi, aneh… aku jadi suka banget mengoreksi, bukan karena ingin meminjam novelnya pak herman, tapi karena ingin melihat tugasnya rizky, jika ada waktu mengoreksi pasti yang pertama aku cari tugas Rizky seperti kali ini, dan… seperti perkiraanku pasti ada lagi.

Aku ingin menulisnya pada selembar daun

Tapi aku takut daun itu akan gugur karena kering dan akhirnya busuk oleh tanah

Aku ingin menulisnya pada Selembar kertas

Tapi aku juga takut ia akan luntur oleh air hujan

Dan yang paling aku takutkan jika kamu tidak mau membacanya

Jadi kuputuskan untuk Tuliskan rinduku dihati saja

Dan kan kujaga  ia hingga takbisa apa atau siapa pun yang mampu menghapusnya

“Len liat dech…” Aku memperlihatkan lagi pada lena.

“So Sweet… Aya… Mungkin nggak jika si Rizky ini terpesona sama loe… jadi dia kirim pesan lewat tugasnya ini, coba fikir pesan cinta lewat tugas Matematika, So Sweet… gue jadi pengen… kenapa nggak ada yang kirim buat gue ya…” kata lena sambil mengipas – ngipas padahal kali ini sedang mendung dan sama sekali tidak gerah.

“Lena sayang… dari mana kamu tahu kalau pesan itu buat aku… aku kan belum pernah bertemu sama dia. Nggak mungkin kan”

“Aya… nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, bukankah loe bilang juga sering tulis pesan di tugasnya, siapa tahu Allah kirim Pangeranmu lewat tugas ini.” kata lena masih dengan mengipas – ngipas

“Plis dech Len berhenti ngipasnya, kecentilan banget sich, kayak nggak ada kerjaan lain ajah.”

“Oh ya ay… kira-kira si Rizky ini kayak apa ya…” Lena berhenti mengipas dan sekarang berfikir sambil menaruh telunjuk ke keningnya persis gayanya Einstein di poster-poster itu “Em… pasti dia… keren… Rapi, rajin… pinter… Kayak gitu dech pokoknya.”

“Ngayal kamu… kalau dia gendut, trus item karna jarang mandi, di tambah lagi pakek kacamata tebal minus kayak si basir itu gimana…” Kataku sambil tersenyum

“He.. he… iya juga ya… tapi yang jelas kalau memang kayak basir, bukan aku yang rugi, kan elu yang dapat pesan itu, he… he…” Lena emang nggak bisa di bilangin, ketawanya kenceng amat.

“Em… gimana kalo kita Tanya Iyan aja, Iyan kan juga sekolah di SMA 3 kelas 3 pula.”

“Bisa nggak kita nggak mbahas Iyan.” Kataku dengan membalikkan muka

“Sewot lagi… ye maap.”

Lalu aku menanyakan pada pak Herman, kali ini aku nggak ngajak Lena, dia itu mulutnya nggak bisa diam, pasti nanti anak-anak tahu semua tentang pesan itu.

“Rizky ardiansyah, dia itu termasuk siswa teladan di kelas bapak, dia rajin mengerjakan tugas, Kreatif, Nilainya di atas rata-rata kelas.” Kata pak herman tanpa meninggal senyumnya yang khas.

Nggak banyak yang dikatakan pak Herman tapi seperti menyihir hatiku, Aku jadi kagum dengan sosok Rizky Ardiansyah, ingin sekali berjumpa dengan dia, diam-diam dia mampu menempati ruang yang aku sendiri tidak tahu itu dimana, yang jelas aku selalu rindu dengan tulisanya, dia mampu membuatku menyukai hal yang sebenarnya tidak kusukai MENGOREKSI

***

Hari ini sebenarnya aku agak sakit, tapi aku tetap kesekolah, karena pak herman bilang mau meminta bantuanku mengoreksi lagi, hah… demi hatiku apa sich yang nggak, tapi…pak herman sich pakek lupa bawa tugasnya segala, sia-sia dech pengorbananku. Pak Herman menyuruhku mampir kerumah beliau untuk mengoreksi, terang saja Lena langsung sorak soalnya dapat kesempatan ketemu Rudi penjaga Counter depan rumah pak herman itu, menurut Lena dia ganteng abiz, kayak Kiki Varel, anak itu centilnya nggak ilang-ilang, padahal mestinya aku yang seneng, aku kan yang menanti tugasnya Rizky. Biasanya aku males banget ke rumahnya pak Herman, males ketemu si bungsu yang rada tulalit itu.

“Aya… aya… temenin Alman maen kapal-kapalan donk, nanti alman kacih pelmen.” Kata arman manja.

Arman selalu minta ditemenin aku, aneh… kenapa nggak Lena saja ya… biar kapok tu si Lena.

“Arman ayo kedalam maen sama ibu saja.” Kata bu salma yang baru saja keluar dari kamar.

“Nggak mau… Alman maunya maen sama aya, aya mau kan maen sama alman.”

“Iya… tapi aya mau ngerjain tugas dulu, sekarang arman maen sama ibu dibelakang. Ya…”

“Benel ya…nggak boleh bo’ong.”

Aku tak tega melihat Arman, seharausnya dia di sini bersama kami, belajar bersama, membantu pak herman mengoreksi, tapi anak itu terperangkap di jiwa anak kecil, tapi pak Herman sama sekali tidak minder dengan keadaan putranya, aku salut dengan beliau.

Heh… demi Rizky aku rela dikejar-kejar arman gara-gara ngambil tugasnya yang dipakek kapal-kapalan sama arman, tapi itu semua nggak sia-sia, ada puisi singkat tapi manis dari Rizky yang kutemukan di tugasnya.

Bisa saja pelangi kehilangan warna

Bisa saja hujan kehilangan tetes air

Tapi tak bisa jika aku kehilangan kamu

Jangan pernah hilang dariku

Meski dalam mimpi

Oh Rizky… seperti apa sich kamu, begitu mudah menyihir hatiku… mungkin bener kata Lena, So Sweet… Loh kok… aku ikut kecentilan seperti Lena.

Ini semua harus berakhir, aku tidak mau terus menerus memikirkan orang yang sama sekali belum aku kenal, bagaimana jika ia tak seperti yang aku inginkan, bagaimana jika aku kecewa di kemudian hari, Akhirnya kuputuskan untuk menulis nomer HP ku ditugasnya dan berharap ia mau menghubungiku.

Biarpun warna kan meninggalkan pelangi

Meskipun Tetes air kan meninggalkan hujan

Tapi… ingatlah, ku tak pernah berfikir tuk tinggalkanmu

Meski dalam mimpi

Meski semua orang meninggalkanku sendiri

Please Call me in 085257442xxx

***

Kalau dulu aku paling tidak suka mengoreksi, tapi sekarang tidak lagi, kamu tahu apa yang paling tidak aku sukai sekarang, MENUNGGU ya menunggu dengan waktu yang tak jelas. Hampir satu minggu tapi rizky belum juga kasih kabar, mungkinkah tugas itu belum dibagikan oleh pak Herman, atau mungkin tugas itu dipakai kapal-kapalan lagi sama Arman hingga tidak sampai ke tangan Rizky, kalau sampai itu terjadi awas Arman aku nggak mau nemenin kamu maen lagi, mungkinkah Rizky tidak menghiraukan pesanku. Kepalaku pusing dengan kemungkinan-kemungkinan itu.

Dering HP ku memecah keheningan malam, tanganku meraba-raba meja dekat tempat tidurku, aku masih ngantuk, siapa sich jam 02.00 begini kirim pesan, “Ku kirim salam sewangi minyak kasturi……” aku kaget, siapa sich ini, nomernya tidak ada dalam daftar telephon, pasti Iyan ini kan sudah pernah di kirim kepadaku kemaren, kurang kerjaan banget dini hari gini kirim pesan, aku tak mengahiraukan pesan itu, kutarik selimutku dan bersiap melanjutkan mimpiku yang sempat terpotong tadi, ups… tiba-tiba aku ingat, bukankah pesan ini yang pertama kali kutulis di tugasnya rizky, mungkinkah ini rizky, bukankah ini nomer baru, aku segera bangkit dari tidurku, tanpa fikir panjang aku langsung membalas pesan itu persis yang ditulis rizky berikutnya “Malam ini ingin kusampaikan salamku pada semua bintang di langit…”, dan… ternyata memang Rizky, mulailah kami berkenalan cerita ini-itu dan yang sering menjadi topik pembicaraan kami tentu saja pak herman yang baik itu, ternyata beliau juga sangat disayangi di SMA 3, Rizky emang asyik diajak SMSan

Di suatu siang Rizky kirim pesan yang intinya meminta bertemu, tentu saja aku bingung, iya sich aku pengeeen banget bertemu dia, tapi… aku belum siap, tahu sendiri khan kalau mau bertemu orang yang dianggap penting, mesti persiapan lahir batin.

“Mau aja Ay… nunggu apa lagi sich, sebentar lagi dia lulus SMA iya kalo dia tetep di sini, kalo keluar kota atau malah keluar negeri, penasaran seumur hidup baru tau rasa loe.” Lena memberi saran kepadaku, kali ini ada benarnya juga Lena.

“Tapi kamu temenin aku ya Len… Please…” aku meminta pada lena sambil menangkupkan kedua tanganku.

“Oke… itu mah gampang, cuman ada cowok cakepnya nggak.” Lena mengipas-ngipas ringan, kebiasaan lena yang satu ini nggak bisa hilang kali.

“kalau cuman cowok cakep nanti bakal ada seabrek, kamu tahu khan SMA 3 akan mengadakan bedah novel, Rizky jadi panitianya, nanti rencananya Rizky akan kasih undangan lewat pak Herman, em… nanti aku minta 2 dech undanganya, tapi inget ya len ini acara resmi jadi kamu harus sopan, satu lagi buang jauh-jauh kebiasaan kamu ngipas-ngipas itu.” Kataku seperti pak Ahmad Rais yang sedang berkhotbah jumat lalu.

“Bedah novel tanggal 15 minggu depan itu… sorry ya ay… tanggal 15 gue mau shoping sama tante gue.”

“Ih… Lena… jadi aku lebih penting dari Shoping.” Kataku sedikit marah, sebenarnya aku nggak bisa marah sama Lena.

“Sekali lagi maafin gue ay… loe tahu sendiri khan tante gue jarang kerumah, ini kesempatan gue bisa belanja gratis, lain kali dech, kalau mau ketemu siapa aja gue temenin ketemu pak Rudi guru Bahasa Inggris yang galak itu juga gue siap.”

“Ya sudah nggak apa-apa.”

Aku kecewa banget sama lena, kalau ada PR Matematika pasti dia nggak pernah absen minta jawabanku, kalau dibutuhkan malah shoping, aku pergi sama siapa ya… aku khan belum pernah ke SMA 3.

“Aya… datang ke acara Bedah Novel di sekolahku minggu depan ya…” kata Iyan pada suatu sore saat les bahasa.

Masa iya aku datang sama Iyan, sama aja bohong donk, aku khan pengen ketemu Rizky, masa datang sama cowok nyebelin ini, nanti kalo Rizky berfikir macam-macam gimana.

“Ye… sorry ya… aku nggak level datang ke acara begituan, apa lagi yang ngundang kamu.” Dengan ketus aku menjawabnya dan langsung pergi meninggalkan dia.

Hari ini jam 08 pagi acara bedah novel itu, dari habis subuh aku sudah mondar-mandir di depan kaca, mempersiapkan diri, tak lupa pula baju yang akan ku pakai sudah ku seterika sampai licin. Baju, rok, juga jilbab berwarna Pink semua. He… he… memang kami janjian pake baju yang serba pink biar mudah ngenalinnya gitu, kalo aku masih mecing cewek pakek pink, tapi dia… lucu kale. Tapi nggak apa-apa orang dia yang minta kok.

Mana sich Rizky. Sudah 20 menit aku disini nggak ada teman yang diajak ngomong lagi, kayak orang linglung, dia kan bilang mau menungguku di secretariat pendaftaran peserta tapi dia kok belum nongol juga, ups… ada si Iyan lagi, ternyata dia juga jadi panitia… eh tapi keren lo pakek seragam jas begitu Cool banget. Loh kok… Lena datang juga, Brengsek Lena tega-teganya ngerjain aku, diminta temenin nggak mau malah sudah nongol duluan. Itu anak mesti dikasih pelajaran, awas nanti kalau ada PR Matematika nggak bakal aku contekin dia.

“Pagi Cantik…” sapa Iyan dan lena yang menghampiriku.

“Pagi…” jawabku ketus

“Cinderella kok jawabnya ketus gitu, lagi nungguin siapa… pangeranya ya…” kata Iyan

“Iya… yang jelas bukan nungguin kamu.”

“Ah yang bener…” kata Iyan sambil membuka jas yang dipakainya, dan…. Aku kaget bukan main, ternyata baju yang dipakai Iyan berwarna Pink, Nggak heran sich itu cowok memang suka banget warna Pink, Cowok aneh. Tapi… jangan-jangan dia… aku tak berani membayangkan jika Rizky Itu ternyata Iyan.

“Aku ingin menulis sesuatu tentang rinduku, tapi aku tidak ingin menulis apapun tentangmu…”

“Stop… jadi ternyata kamu…” aku membentak Iyan

Belum selesai Iyan berbicara aku sudah mau pingsan rasanya, ternyata dia memang Rizky, mungkin mereka sudah merencanakan semuanya, Iyan, Lena, mungkin juga pak Herman, awas mereka tega-teganya ngerjain aku, tapi… kenapa aku nggak pernah curiga ya…

“Oh Rizky… ternyata kamu Iyan… He… he… he….” Lena mengejekku, aku langsung menginjak kakinya.

“Wadowh… sakit ni….”

Aku nggak pernah mengira jika akhirnya begini, aku memang bodoh. Aku tidak permah menyangka jika Rizky Ardiansyah itu di panggilnya Iyan. Kalau sudah begini, aku nggak tahu perasaanku sama Iyan seperti perasaanku sama Rizky atau tidak, bagiku mereka adalah 2 orang yang berbeda. Mungkin sampai kapanpun akan begitu, tapi…. Iyan keren juga. Kata Lena mirip Dude Herlino, Apa…. Dude Herlino waktu bangun tidur kali…

Kedungadem, 10 Maret 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: