Senjapun Menangis

Hujan masih menunjukan sisa – sisanya, sisa tetes airnya seperti manik – manik bening yang menempel di setiap kaca, genangan airnya menggenangi setiap lubang tanah, bekas ban mobil, bekas telapak kaki pak udin yang biasa membersihkan taman, rumput – rumput masih kedinginan, bunga – bunga lunglai karena lelah, capai sesudah bermain – main dengan angin, aku rindu burung yang biasa terbang berkejaran dengan kupu – kupu, mengapa kau tak tampak takutkah kau dengan dinginya air hujan seperti takutnya aku akan kegelapan dan kehujanan.

Aku masih disini entah sudah berapa lama, sebelum hujan turun sampai ia berhenti turun lagi dan berhenti lagi, entah sudah berapa kali, mungkin sampai langit kehabisan air, aku akan tetap disini menunggunya, karna ia berjanji akan selalu datang untukku, ia rela mendaki puncak gunung tertinggi untuk memetikkan edhelwais untukku, atau dikejar-kejar anjing karna memetik mawar putih kesayangan putri pak herman ditaman belakang rumah pemilik tempat latihan bulutangkis ini, Aku tak percaya jika hanya karena hujan ia akan mengingkari janjinya untuk datang. Pesan terakhirnya membangun segudang pertanyaan dalam hatiku. Memberi aku kekuatan untuk tetap bertahan disini.

Sudah 3 kali panggilan Robbi terdengar, sayup – sayup dari masjid dan mushola, menyusup tiap lorong – lorong alam semesta, singgah ditelinga tiap umat manusia, ada yang menbiarkanya berlalu bersama hembusan angin, ada pula yang menghiraukan tapi menunggu hingga beberapa waktu kemudian datang menghadapnya, hanya sedikit yang menangkap menimbulkan gerak reflek dan langsung bersimpuh dihadapanya,

Kali ini aku termasuk yang ke 3, kubasuh mukaku berharap nanti memberi ekspresi yang gembira, kubasuh tanganku dengan sejuta harapan, kubasuh kakiku berharap ia sabar untuk tidak berjalan meninggalkan taman ini, segera aku bersimpuh dihadapanya dan kupanjatkan Doa “Ya Allah semoga hari ini aku mendapatkan kabar baik.” Lalu aku kembali ketaman.

Aku benci gelap, aku benci kehujanan, tapi aku mencintainya, aku tak akan beranjak dari sini sebelum ia datang dan mengajakku pergi jauh, ketempat yang hangat dan terang, Aku lapar, aku haus,  aku capek, tapi aku tak ingin pergi, karna aku percaya ia pasti akan datang, mangendap-endap dan mengagetkanku dari belakang, sengaja membuatku merajuk lalu memujiku hingga membuat mukaku merah karena malu, yah… aku akan menunggu ia sampai datang.

Mungkin kau menganggapku bodoh, mencela orang yang gila karna cinta, mengolok – olok orang yang buta karna cinta, mencibir orang yang tuli karna cinta, sebelum kau rasakan sendiri apa itu cinta, Mata, telinga, fikiran, tuhan yang menciptakan, cinta, tuhan pula yang menciptakan, jangan salahkan mata ketika  ia tak bisa melihat dengan sempurna, jangan salahkan ketika telinga tak mendengar dengan seksama, jangan salahkan fikiran ketika ia tidak bisa berfikir seperti adanya, karna cinta mampu mengendalikan semuanya,

Puitis memang, tapi itu benar adanya, Aku bukan pemuja cinta, tapi aku tak berdaya karna cinta, seperti sekarang ini, tanpa kusadari tiba-tiba semua gelap.

Aku tidak ingat apa-apa yang kutahu aku sudah berada dirumah kak anang orang yang sudah menganggapku sebagai adik,

“dik ayu sudah sadar, sudah agak baikan?

Aku hanya menganggukan kepala

“ kakak menemukanmu di bangku taman saat kakak mau berangakat latihan bulutangkis, kamu sudah tidak sadar.”

Kak anang mengambilkan aku segelas air

“maafkan kakak, ini semua salah kakak, tadi pagi kak Lud menitipkan surat ini kapada kakak, untuk disampaikan kepadamu, tapi kakak lupa kalau siangnya kakak harus mengantar adik kakak dan mengurus segala administrasi asrama barunya, kakak tahu kamu pasti akan menunggu ditaman, kakak sudah berusaha menelephonmu tapi tidak bisa. Kakak tak mengira kalau kamu akan menunggunya sampai malam.”

“maaf kak HP ku dari tadi siang lowbat dan aku tidak bisa kemana-mana karna hujan tidak berhenti dari tadi siang”

“maafkan kakak ya, kak lud tidak bisa menemuimu, ia hanya pesan, menyuruhku menemanimu saat kamu membaca surat darinya,”

Kak anang menyerahkan surat itu berlahan kubuka dan kubaca.

Bersambung………… tolong dibaca kelanjutanya ea….

Makalah Pengertian membaca, Ketrampilan Mekanis dan Ketrampilan Pemahaman

MAKALAH

PENGERTIAN MEMBACA, KETRAMPILAN MEKANIS DAN KETRAMPILAN PEMAHAMAN

Oleh

YUNI RAHMAWATI

NPM. 09111953

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA

BOJONEGORO

2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T, karena dengan rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelasikan makalah ini sebagai Tugas dari mata kuliah ketrampilan membaca pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indnesia Jurusan Bahasa Indonesia

Sebagai pendorong penulisan makalah ini adalah bahwa keberagaman bahasa Indonesia yang kadang menjadi masalah dalam hal pemahaman. Untuk itu kami mencoba menghadirkan tulisan ini sebagai bahan pertimbangan.

Tidak lupa dengan rasa hormat penulis menyampikan terimakasih kepada

  1. Bapak Drs. MASRUKIN, M.Pd. yang telah membmbing dan memotifasi kami untuk menulis
  2. Teman-teman yang membantu penulisan makalah ini
  3. Dan emua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini sehingga dapat selesai tepat waktu

Atas kebaikan dan keikhlasan penulis ucapkan terima kash, tidak lupa teriring do’a semoga Allah S.W.T memberikan ridho Nya dan membalas sesuai dengan amal kebaikanya.

Mengingat kemampuan penulis yang terbatas dalam penulisan makalah ini, maka penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini jauh dari sempurna oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran untuk perbaikan lebh lanjut

Akhirnya semga penulisan makalah ini bermanfaat bagi penddidkan khususnya dan bagi masyarakat umumnya

Penulis

DARTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………….         1

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………         2

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………         3

BAB I   PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Masalah ……………………………………………………….         4

1.2.   Rumusan Masalah………………………………………………………………..         4

1.3.   Tujuan………………………………………………………………………………..         4

1.4.   Manfaat……………………………………………………………………………..         5

BAB II PENDAHULUAN

2.1  Pengertian  Membaca…………………………………………………………….         6

2.2  Ketrampilan Mekanis……………………………………………………………..         7

2.3  Ketrampilan Pemahaman………………………………………………………..         7

BAB III  PENUTUP

3.1.  Kesimpulan…………………………………………………………………………         10

3.2.  Saran…………………………………………………………………………………         10

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Masalah

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata – kata atau bahasa tulis. ( TARIGAN 1979 : 7 ).

Salah satu upaya untuk meningkatkan minat membaca bagi para siswa atau mahasiswa, maka kami menyusun makalah ini supaya dapat memberikan pengertian bagi para siswa maupun mahasiswa yang ingin mengetahui apa makna membaca, karena begitu pentingnya makna membaca bagi kita yang bergelut dalam pendidikan. disini kami juga memberikan beberapa pemahaman dan pengertian membaca, dan mengungkapkan ide-ide dari tokoh-tokoh terkemukan di dalam mejelaskan pengertian membaca, ketrampilan mekanis dan ketrampilan pemahaman

Membaca memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena lewat membaca segala bentuk kejadian dan informasi dapat kita ketahui.

1.2.   Rumusan  Masalah

Dari latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut

1.2.1.      Apa Pengertian menbaca?

1.2.2.      Apa Ketrampilan Mekanis?

1.2.3.      Apa Ketrampilan Pemahaman.?

1.3.   Tujuan Penulisan

Penulis Tidak Sekedar menulis tetapi mempunyai tujuan yaitu.

1.3.1        Mengetahui Tentang pengertian Membaca

1.3.2        Menjadi tahu Ketrampilan membaca Mekanis

1.3.3        Menjadi Mengerti Tentang membaca Pemahaman.

1.4.   Manfaat

Semoga makalah ini bisa bermanfaat diantaranya

1.4.1.      Bagi penulis dan mahasiswa lain, untuk lebih memahami tentang pengertian membaca, ketrampilan mekanis, dan ketrampilan pemahaman

1.4.2.      Agar bisa dijadika bahan referensi

BAB II

PEMBAHASAN

2.1   Pengertian Membaca

Para pakar hingga saat ini masih memberikan batasan yang berbeda tentang hakikat membaca. Anderson dalam Tarigan (1985 :7) mengatakan bahwa membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and deconding process). Bagi Dika yang masih duduk di kelas 1 SD pengertian membaca seperti itu tepat sebab ketika dia membaca hanya terbatas mengemukakan atau membunyikan rangkaian lambang-lambang bahasa tulis yang dilihatnya, dari huruf menjadi kata kemudian menjadi frasa kalimat, dan seterusnya. Mengerti atau tidak mengerti makna dari seluruh rangkaian lambang-lambang bahasa tulis tidak menjadi persoalan. Pengertian tersebut menyatakan seakan-seakan membaca suatu hal yang pasif.

Pengertian Anderson bagi anak-anak SD kelas 2 ke atas tidak dapat dipertahankan lagi,sebab pada level ini mereka dituntut untuk memahami maksud atau arti dari lambang yang dibacanya. Oleh karena itu, Finnichiaro dan Bonomo dalam Tarigan (1985 :8) mencoba mendefinisikan membaca adalah suatu proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahasa tertulis (bringing meaning to and getting meaning from printed or written material). Kegiatan membaca pada anak-anak kelas 4 SD ke atas bukanlah kegiatan membaca yang dikatakan oleh Finnochiaro dan Bonomo,karena membaca bukan hanya memahami yang tersurat saja tetapi juga yang tersirat, sebagaimana yang dikatakan oleh Goodman dalam Harras dan Sulistianigsih (1997 :1.7) bahwa ketika seseorang membaca bukan hanya sekedar menuntut kemampuan mengambil dam memetik makna dari materi yang tercetak melainkan juga menuntut kemampuan menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna.

Dengan demikian membaca bukan hanya sekedar memahami lambang-lambang bahasa tulis saja, melainkan berusaha memahami, menerima, menolak, membandingkan, dan meyakini pendapat pengarang

Tambubulon (1993) menjelaskan pada hakekatnya membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan walaupun dalam kegiatan itu terjadi proses pengenalan huruf-huruf. Dikatakan kegiatan fisik karena bagian – bagian tubuh khususnya mata yang melakukan, dikatakan kegiatan mental karena bagian – bagian pikiran khususnya presepsi dan ingatan terlibat di dalamnya, dari definisi ini kiranya dapat dilihat bahwa menemukan makna dari bacaan (tulisan) adalah tujuan utama membaca dan bukan mengenai huruf-huruf.

Diperjelas oleh pendapat Smith (ginting 2005) bahwa membaca merupakan suatu proses membangun pemahaman dari teks yang tertulis (www.bpkpenabor.or.id)

2.1   Ketrampilan Mekanis

Membaca bersuara sering juga memakai nama-nama yang berbeda seperti membaca mekanis, membaca oral, membca ulat, dan membaca nyaring. Apapun nama yag digunakan, membaca mekanis ini merupakan suatu aktifitas yang jelas untuk nenangkap dan memahamkan informasi pikiran dan perasaan

Bacaan mekanis adalah bacaan bersuara yang menyuarakan Tulisan dengan sebutan yang jelas dan terang dengan intonasi dan irama mengikat, gaya membaca yang betul, dengan mengerakkan alat pertuturan, orang yang membaca harus mempunyai kemampun untuk mengartikan apa saja yang tersirat dalam bahan – bahan yang dibaca, lazimnya ia harus memiliki kecepatan mata yang tinggi serta pandangan mata yang jauh. ia juga harus bisa mengelompokkan kata-kata dengan baik dan tepat agar jelas maknanya bagi para pendengar

Membaca mekanis merupakan suatu ketrampilan yang serba rumit dan kompleks, dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa, membaca mekanis yang digunakan lebih tertumpu pada usaha menganalisis pengucapan dari pada pemahaman. (wwwimprescholteacha.bogspot.com)

2.2   Ketrampilan Pemahaman

Membaca pemahaman menurut Tarigan ( 1986:56 ) merupakan sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma-norma kesastraan ( literary standards ), resensi kritis ( critical review ), drama tulis (primed drama ), serta pola-pola fiksi ( pattenrs of fiction ).

Proses penguasaan dan ketrampilan membaca pemahaman dipengaruhi beberapa faktor.Yap ( 1978 ) dalam Harras dan Sulistiyaningsih (1997/1998:1.18 ) melaporkan bahwa kemampuan membaca seseorang sangat ditentukan oleh kuantitas membacanya. Hasil penelitiannya menyebutkan perbandingan sebagai berikut : 65 % ditentukan oleh banyaknya waktu yang digunakan untuk membaca, 25 % oleh fakor IQ, dan 10 % oleh faktor-faktor lingkungan social,emosional, lingkungan fisik dan sejenisnya. Sedangkan Ebel ( 1972:35 ) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kemampuan pemahaman bacaan yang dapat dicapai oleh siswa dan perkembangan minat bacanya tergantung pada faktor-faktor berikut :(1) Siswa yang bersangkutan, 2) keluarganya, (3) Kebudayaannya,dan (4) Situasi sekolah.Alexander ( 1983:143) berpendapat bahwa faktor-faktor yang  mempengaruhi perkembangan pemahaman bacaan meliputi : program pengajaran membaca, kepribadian siswa, motivasi, kebiasaan dan lingkungan social ekonomi mereka.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa situasi sekitar pembaca berpengaruh terhadap kegiatan membaca pemahaman seseorang. Suatu kegiatan reseptif menelaah isi teks bacaan memerlukan situasi lingkungan yang tenang. Keadaan yang tenang akan membuat pembaca lebih mudah mengenali setiap lambang bunyi, memberi makna dan dapat menanggapi isi bacaan dengan cepat.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam membaca pemahaman adalah bahan bacaan. Bahan bacaan yang memiliki tingkat kesukaran tinggi akan menjadi kendala bagi pembaca dalam memmahami bahan bacaan. Sebaliknya siswa akan dapat memahami secara baik bahan bacaan yang tergolong mudah. Oleh sebab itu bahan bacaan yang akan disajikan hendaklah dipilih yang memiliki tingkat keterbacaan tinggi, bentuk kalimatnya efektif, tidak ada unsur asing yang tidak perlu, dan memiliki pola penalaran yang runtut.

Aspek lain yang juga berpengaruh dalam membaca pemahaman adalahkondisi umum jasmani dan tonus ( tegangan otot ) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi bila disertai pusing-pusing kepala dapat menurunkan kualitas ranah cipta  ( kognitif ) sehingga materi yang dibaca kurang atau tidak berbekas. Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indra penglihat juga sangat mempengaruhi kemampuan menyerap informasi dan pengetahuan.

Aspek lain yang tidak dapat diabaikan adalah aspek keluasan wawasan, tingkat kecerdasan, sikap, bakat, minat, dan motivasi. Aspek-aspek ini dapat memberikan kontribusi yang baik terhadap tingkat ketrampilan membaca pemahaman.

Karlin ( 1964 ) dalam Nurhadi dan Rockhan ( 1990:225 ) mengatakan bahwa pembelajaran bahasa dalam memahami wacana melewati beberapa aspek. Aspek-aspek yang dimaksud adalah : (1) pemahaman kata, (2) konsep, (3) kalimat, (4) struktur paragraph, dan (5) sikap dan tujuan.Pemahaman kata dapat dilatihkan dengan melihat konteksnya,dan mencakupi (1) struktur kata, (2) sinonim dan antonym, (3) bahasa figurative,dan (4) penggunaan kamus. Konsep adalah hubungan pengertian atau makna dengan pengalaman. Kalimat yaitu kemampuan menghubungkan makna kata yang satu dengan yang lain. Struktur meliputi kalimat, dan ide pokok. Berdasarkan kajian pustaka yang telah dilakukan di atas dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman mempunyai tingkatan yang bervariasi dari tidak mengerti sampai mengerti secara lengkap. Ketrampilan membaca pemahaman dipengaruhi oleh inputnya. Seperangkat data , keterangan, dan bahan-bahan bahasa yang didapatkannya adalah input yang dapat digunakan untuk melewati beberapa aspek membaca. Faktor intern dan ekstern lain juga mempengaruhinya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari makalah ini penulis menyimpulkan.

  1. Pengertian Membaca, Karena banyak sekali tentang pengertian membaca, maka penulis memberi kesimpulan yang lahir dari pemikiran penulis sendiri, yaitu Membaca adalah, kegiatan fisik, mental untuk menemukan makna yang terkandung didalam tulisan, baik itu yang tersirat maupun yang tersurat, sehingga memberikan pemahaman.
  2. Membaca bersuara atau di sebut juga membaca mekanis merupakan suatu aktifitas yang jelas untuk nenangkap dan memahamkan informasi pikiran dan perasaan.
  3. Membaca  pemahaman menurut Tarigan ( 1986:56 ) merupakan sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma-norma kesastraan ( literary standards ), resensi kritis ( critical review ), drama tulis (primed drama ), serta pola-pola fiksi ( pattenrs of fiction ).

3.2 Saran

Pada tulisan ini penulis ingin menyampaikan saran – saran sebagai berikut:

  1. Bagi peserta diskusi hendaknya aktif dalam diskusi
  2. Bagi dosen Pembimbing hendaknya ikut mengambil peran dalam penulisan makalah ini
  3. Selanjutnya karena penulis hanyalah orang biasa dan tentunya mempunyai banyak kesalahan, penulis mengharap saran yang konstruktif  untuk pengembangan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.bpkpenabor.or.id/

www.imprescholteacha.bogspot.com

http://suherlicentre.blogspot.com

Dua rasa

Aku masih mencintai senja dan membenci gelap

Aku masih mencintai kamu dan juga membencimu

Aku tak sanggup terima kenyataan kau telah menyakitiku

Karna sungguh aku masih mencintamu…

Aku hidup  antara benci dan cinta tanpa tau harus kumenangkan yang mana

Sang benci terus saja menempati ruang fikiranku

Tapi tak bisa dipungkiri Sang Cinta masih tersimpan rapat dihatiku

Haruskah satu jiwa merasakan 2 perasaan yang berbeda

Seperti Majikan yang memelihara anjing dan kucing

Aku takut jika swatu saat nanti mereka tak bisa sejalan

haruskah kumenangkan yang mana??????

Mungkin tak ada yang akan menang

Dan kupilih untuk tak punya rasa apapun kepadamu.

Surat Cinta Dari Ustadzku

SURAT CINTA DARI USTADZ KU

Maya berjalan cepat sekali ia masuk sebuah gedung dekat masjid, rupanya itu sebuah kelas tempat Santriwan – santriwati ( Panggilan Anak – anak yang mengaji) TPA (Taman Pendidikan Alqur’an ) belajar membaca Al-Qur’an. Ada satu ruang besar yang di bagi menjadi 3 ruang tiap bagian hanya di sekat dengan kain kelambu. Ruang yang pertama tempat anak – anak kelas 1 terdiri dari Iqro’ 1 dan 2, ruang yang ke 2 kelas II terdiri dari Iqro’ 3 dan 4 sedang yang terakhir kelas III yaitu terdiri dari Iqro 5 dan 6.

Setelah khatam Iqro’ 6 biasanya masuk kelas kelas fasohah yaitu kelas pasca Iqro’ atau pra Al-Qur’qn, kelas ini bertujuan untuk beradaptasi membaca Al – qur’an jika langsung ke Al-Qur’an anak akan lebih sulit untk membaca Al-qur’an, untuk itu di adakan kelas fasohah yang materinya terdiri dari bacaan surat – surat pendek dan potongan ayat Al-Qur’an, kelas fasohah ini berada di sebelah satu rung dengan kelas tartil ( Sebutan untuk santri Yang elah mengikuti materi Al – qur’an)

“Maaf kak Reni Kak Imanya di mana ya…” Maya bertanya kepada Reni yang sedang mengajar kelas 2

“Em… tadi saya lihat di kelas I, ada perlu apa ya… “

“Nggak kok , nggak ada apa – apa maya cuman pengen nanya aja, Makasih ya kak reni.”

Maya langsung menuju ke ruang kelas I disana ima tengah mengajar kelas I membaca Iqro’ sambil memegang penggaris yang di arahkan ke papan tulis.

“Ini di bacanya apa anak – anak …….”

“Baaaaaaa….” Jawab anak – anak serempak

“Eh… Nggak boleh panjang, harus pendek “Ba” ayo ikuti kakak “Ba.”

“Ba” jawab anak – anak serempak pula

Ima membaca huruf – huruf Al-Qur’an yang tertera di papan tulis dan anak- anak pun mengikuti dengan serempak pula, setelah selesai ima mendekati maya.

“Ada apa dik maya… ”

“Kak Ima may pengen ngomong sama kakak, penting banget.”

“Gimana kalau nanti malem aja, so’alnya kali ini kakak lagi sibuk, kamu nggak mau kan ngorbanin anak – anak hanya demi kepentingan kamu, oh ya nanti malem kamu ikut ngaji tafsir kan”

“Ya sudah… nanti malem maya tunggu di depan masjid ya kak “ Maya pergi meninggalkan ima.

***

Maya dan Ima pergi ke masjid untuk sholat Isya’ setelah selesai mereka bersiap –siap menerima pelajaran tafsir.

Setelah selesai berjabat tangan dengan teman – temanya Maya dan Ima keluar dari masjid, mereka berjalan ke pondok putri, tak di sengaja mereka bertemu dengan Abdullah Awaludin yang juga baru selesai mengikuti pelajaran tafsir

“Eh kak Udin… mau pulang juga ya… biasanya kakak berbincang – bincang dulu dengan pak ustadz” sapa Ima .

“Iya, ada tugas kuliah yang harus aku kumpulkan besok, jadi harus cepet – cepet pulang, eh maya… Gimana may sudah…”

Maya menundukkan kepala

“Nggak apa – apa jangan terburu – buru aku mau kamu memikirkanya dengan matang” kata awaludin dengan penuh wibawa.

“Ada apa sich may…” kata ima dengan wajah penuh Tanya

“Nggak ada Apa – apa kok kak ima…  Eh maaf ya kak udin kami harus cepet – cepet pulang”  Maya pergi meninggalkan awaludin sambil memegang tangan ima dengan paksa.

“Aduh may… Sakit ni… ada apa sich may, kakak kan pengen ngobrol dulu sama kak udin.”

“Ayo donk kak kita harus cepet – cepet, kan sudah malam nanti kalau ketahuan ketua kelas aku di suruh balik ke kamar.”

Mereka menuju rumah ustadz jalal pengasuh pondok pesantren tempat maya menuntut ilmu karena ima tinggal di sana, rumah ustadz jalal berada di sampig kanan pondok putri, setelah sampai mereka langsung masuk ke kamar ima.

“Ada apa sich may… kayak di kejar setan saja, kakak kan pengen ngomong dulu sama kak udin” Ima agak kecewa dengan tindakan maya tadi.

“Kak Ima, Maya pengen ngomong sama kakak, ini juga menyangkut kak udin”

“Ada apa dengan kak udin” kata ima sedikit kaget

“Kak Ima… kemaren kan ada tugas dari sekolah, jadi aku pinjem buku haditsnya kak udin, dan… Di dalamnya ada ini…” kata maya sambil menyerahkan secarik kertas yang di ambil dari sakunya kepada Ima.

Dengan agak ragu Ima mengambilnya dan berlahan membuka kertas itu lalu membacanya.

Kepada,

Orang yang selalu menggangu fikiranku

Maya Khusnul khotimah

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Duhai yang lembut suaranya, duhai yang cantik perangainya, duhai yang baik hatinya, Subhanalloh… maha suci Allah menciptakan mahluq berparas cantik seperti dirimu dengan begitu banyak keistimewaan, andai saja memandangmu adalah halal bagiku, ingin rasanya aku memandangmu setiap saat, setiap waktu, bahkan sedetikpun tak ingin ku lewatkan tanpa memandangmu. Andai saja air segar saat kekeringan bisa menebus dosa kan ku berikan air itu asal aku bisa memandangmu tanpa dosa

Lewat secarik kertas dengan goresan tinta ini aku ingin kau tahu, ada maya dalam setiap mimpiku, ada maya dalam setiap hembus nafasku, ada maya dalam setiap detak jantungku, ada maya dalam denyut nadiku, dan tak lupa selalu ada maya dalam detiap do’a – do’a ku.

May… maukah kau menjadi ibu dari anak – anak ku kelak.

Aku selalu berdo’a semoga engkau yang di kirimkan Allah tuk menjadi pendamping hidupku, semoga aku diberi kesempatan untuk hidup bersamamu, semoga keinginanku mendapat sambutan yang hangat darimu, semoga Allah memaafkanku karena selalu memikirkanmu. Entah berapa banyak lagi kata semoga yang ku panjatkan untukmu…

May… tahukah kamu sesungguhnya sudah sejak lama aku ingin melamarmu, tapi… aku tidak tahu harus kepada siapa aku melamarmu karena aku tidak mengenal satu pun dari keluargamu, untuk itu aku melamarmu lewat secarik kertas ini, maaf jika caraku sedikit tidak sopan, setidaknya ini bisa mengobati keinginanku yang begitu kuat untuk melamarmu.

May… maaf jika ini tidak kau sangka sebelumnya, sungguh ini adalah keinginan yang tulus dari hatiku, maaf jika karena surat ini mengganggu fikiranmu, aku tidak bisa menunggu sampai kamu selesai ujian karna keinginanku yang begitu kuat  untuk melamarmu. Aku harp kamu bisa memakluminya

Dan yang terakhir aku berdo’a selalu semoga engkau bisa lulus ujian dengan nilai yang memuaskan, dan atas suratku ini aku berharap kamu sudi membalasnya.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Yang Selalu mecintaimu

Abdullah Awalludin

Ima melipat kembali surat itu, seketika wajahnya pun berubah murung, ia mengambil tissue di atas meja dan mengusapkan kemukanya

“ Kak ima may mesti gimana kak…”

“Heh…”  ima menghela nafas panjang“ Ternyata adikku sudah besar ya… Sebentar lagi lulus ujian, dan mungkin akan menjadi nyonya Maya Abdullah, kakak masih ingat, dulu saat kamu baru masuk pesantren ini kamu manja… Banget, tak terasa ya 6 tahun telah berlalu sekarang kamu sudah mengenal cinta, inget nggak saat ngaji di TPA dulu kak udin yang selalu menghibur kamu saat nangis”  kata ima dengan tersenyum

“ Kak ima jangan ngomong itu lagi dech, may kan jadi malu… anak kecilkan semua sama, kakak dulu pasti juga cenngeng gitu …”

“Nggak tu… kakak dulu sejak kelas 4 sudah boboq sendiri, sudah menjuarai lomba CCA ya… walaupun hanya tingkat Kecamatan, nggak seperti kamu cengeng…”

“Ah… kakak nggak usah ngledekin may gitu  dech… trus ini gimana… kak udin minta jawabanya lo kak.” Kata maya dengan manja.

“Menurut kakak, kak udin itu… ustadz yang baik, pinter, rajin beribadah dah dewasa lagi, sebentar lagi juga lulus kuliah, mungkin sebentar lagi dia akan jadi guru mengikuti jejak ayahnya, jadi….. nggak ada alasan lagi buat kamu untuk nolak dia. Ya… tapi itu cuman pendapat kakak keputusan mutlak ada pada kamu,”

“Oh ya… 1 lagi, jangan lupa istiqoroh,”

“Iya sich, may tahu kak udin begitu berbeda dengan ustadz lain, tapi… kalau may menerima lamaranya trus kakak gimana….?” Kata maya sambil memainkan ujung jilbabnya.

“Aku gimana….? Maksud kamu apa sich may kakak nggak ngerti” ima sedikit kaget dengan ucapan maya

“Tuh… khan… sama may aja kakak bohong, kayak may siapa ajah,  may tahu sejak dulu kakak itu selalu memperhatikan kak udin, kakak suka kan sama ustadz ganteng itu… tapi kenapa sich kak, kakak selalu diam…”

“ Kenapa sich may kita kok jadi ngomongin kakak, ini kan masalah kamu, kamu kan yang dapat surat itu.”

“Iya aku yang dapat surat itu, tapi ini juga berhubungan dengan kakak, karena kakak mencintai kak udin.”

“Kamu tahu apa sich may tentang kakak.” Ima berbicara agak keras.

“May tahu…. Sejak dulu kakak suka sama kak udin, itulah sebabnya mengapa kakak selalu menolak setiap lamaran, meskipun lamaran itu dari gurunya may, walaupun kakak selalu bilang bahwa kakak masih kuliah dan belum memikirkan untuk menikah, tapi may tahu bahwa sebenarnya lamaran kak udinlah yang kakak tunggu.”

“May… kak udin adalah kakak ku dan selamanya akan jadi kakak ku. Itu yang selalu kak udin bilang”

“Ya… memang kak udin bilang begitu, tapi may tahu kakak mencinyainya, kakak rela meskipun hanya di anggap adik, asal kakak bisa selalu dekat dengan kak udin, iya kan…”

Ima menangis tapi dengan segera menghapus air mata itu, ia tidak mau kelihatan cengeng di depan maya.

“Kak ima… Maafin may ya… may tidak bermaksud membuat kakak sedih.” Maya merangkul ima, ia tahu ima sedang menangis meskipun ima berusaha menutupinya

“May akan menolak lamaran itu, may mau kakak yang menikah denganya, karna kakak yang lebih pantas mendapatkan kak udin.” maya pun tak kuasa menahan airmatanya

“May… mengapa kamu jadi sebodoh itu sich, ada saatnya kamu harus lebih mementingkan dirimu sendiri dari pada orang lain, misalnya, kamu mau sholat ada temanmu yang tidak membawa mukena, kamu tidak boleh meminjamkan mukena itu ke temanmu, kamu harus sholat lebih dulu karena sholat di awal lebih utama, begitu juga menikah, apabila ada laki-laki baik melamarmu kamu harus menerimanya, jangan menolak hanya karena ada teman baikmu yang mencintainya, karena menikah itu adalah sunnah nabi dan akan lebih baik jika kamu manjalankan lebih dulu, bisa jadi setelah ini tidak ada yang melamarmu sebaik laki-laki yang melamarmu tadi.”

“ Tapi kak… ”

“ Hus…. Nggak usah ngomong lagi… ”

Tok… tok… tok… ada yang mengetuk pintu kamar ima

“Ima… di panggil romo, katanya minta di kerokin sama kamu.” Ternyata ibunya yang memanggil, ima kaget dan dengan segera menghapus airmatanya

“Inggeh bu sekedap, mengken ima nyusul teng kamare romo.”

Maya merapikan jilbabnya mereka segera keluar kamar, ima berjalan menuju kamar ayahnya, sedangkan maya menuju pondok putri

***

Kepada,

Yang sangat berharga dlm hidupku

Ustadz ku Abdullah Awalludin

Assalamu’alaikum wr wb

Kutulis ini kala hati sedang berbunga, bak mawat mekar setaman nan indah mewangi itulah yang ku rasa saat ini, tapi betapa sedih hati ini kala menyadari bahwa mawar itu bukanlah untuknya, bahwa ia tidak berhak memetik setangkaipun dari mawar itu.

Kakak… ku mohon jangan kau siksa aku dengan kata – kata itu, memang begitu manis di dengar, tapi tanpa di sengaja, bagai pedang yang dengan kasar menyayat hatiku.

Hanya orang bodoh yang menolak di peristri oleh kakak, aku bukan termasuk orang bodoh itu, tapi keadaan yang memaksa aku sehingga membuat aku sebodoh itu.

Kakak… maafkan aku, aku tidak bisa menerima lamaran kakak, karena sesungguhnya jodohku telah ditentukan orang tua ku di sana.

Aku masih ingat saat aku mengaji dulu, kakak selalu mengajarkanku sebuah ikrar yaitu ikrar santri, dan yang paling ku ingat adalah ikrar yang ke empat “Taat dan hormat kepada ayah dan ibu” kakak pasti ngerti maksudku aku tidak mungkin menolak perjodohan itu karena itu salah satu wujud taat kepada orang tua, aku juga selalu ingat hadits nabi yang menyebutkan bahwa surga itu berada di telapak kaki ibu dan aku tidak ingin kehilangan surga itu, maaf aku tidak bermaksud menggurui orang yang sudah menjadi ustadz.

Kakak… maafin aku ya… sungguh aku tidak bermaksud menyakiti kakak. Kakak… tanpa kakak sadari sebenarnya ada orang yang lebih berhak memetik mawar itu, ada yang lebih berhak menerima pujian itu, aku minta bukalah pintu hati kakak untuk menerima dia, dia lebih pantas mendapatkan kakak dari pada aku.

Dan yang terakhir aku juga selalu berdo’a semoga kakak segera menemukan orang yang bisa dengan leluasa kakak pandang kecantikanya tanpa dosa

Wassalamu’laikum wr wb.

Maya Khusnul Khotimah

Tanpa sengaja awaludin meneteskan airmata ia terharu membaca surat dari maya “siapakah orang yang berhak memetik mawar itu” ia masih memikirkan isi surat maya “Mungkinkah Ima putri ustadz jalal yang anggun, cerdas, serta baik hati itu, yang sekarang satu kampus dengan ku, dia kan teman akrab maya, tapi… apakah mungkin seorang aku yang di cintainya. Andai dia orangnya takkan ku buang – buang waktuku aku akan segera melamarnya”

Awaludin menutup buku haditsnya dan surat maya yang terselip di dalamnya.

“Wah… wah…  udin, sejak kapan jadi sufi hingga membaca hadits begitu saja kamu teteskan air mata” Adit temanya menyapanya dari belakang sambil menepuk punggungnya.

“Ah kamu bisa saja… siapa yang nangis, sudah ayo kita berangkat ke kampus, oh ya… kamu kapan datang.” Tanya awaludin

“Baru saja… tadi kata ibumu kamu di kamar jadi aku langsung masuk saja.”

Adit dan udin berangkat ke kampus mereka bertemu dengan Ima, Ima berjalan dengan temanya sambil bercakap sesekali tersenyum, senyumnya maniz sekali, setelah berjalan 10 meter mereka berpapasan, dengan segera ima menundukkan kepala, Adit menyapa ima sedangkan Udin hanya berani mencuri pandang sedikit menatap wajah Ima yang putih bersih, tapi tatapan udin agak aneh, wah…   kayaknya ada sinyal ni… Apa yang terjadi selanjutnya ya…

Sekian

Pesan cinta lewat tugas matematika

PESAN CINTA LEWAT TUGAS MATEMATIKA

Siang ini aku capek banget, kalau saja bukan karena Drs. Hermansyah aku pasti sudah pergi jauh – jauh dari ruang yang lembab tanpa AC ini, Aku sudah rindu dengan masakan ibuku, sayur asemnya, sambal terasinya, juga ikan asinya, walaupun tak selezat masakan restoran, tapi menurutku masakan ibuku paliiing lezat.

Tapi aku dan kelima temanku tidak kuasa menolak keinginan pak herman yang baik itu, kami rela tetap berada di ruang yang berbau kaus kaki basir yang sudah satu minggu belum di cuci, ditambah lagi parfum yang menyengat ala si melly yang centil itu, aneh… walau mereka sudah pergi tapi mengapa ya baunya masih tertinggal. meskipun sekarang sudah waktunya pulang, meskipun aku harus melakukan pekerjaan yang paling tidak aku sukai MENGOREKSI apa lagi tugas itu bukan dari kelasku, tapi… itu semua setimpal dengan senyuman pak herman yang lembut itu,

Pak Herman guru yang paling aku sukai, karena beliaulah sekarang aku jadi suka pelajaran matematika, padahal dulu… males gila… umurnya sudah hampir setengah abad tapi tetap bersemangat seperti guru muda pada umumnya, beliau mengajar di 2 sekolah yang berbeda di SMA 3 dan di SMA muh tercinta ini, sekolahku maksudnya, menurut cerita beliau, hari senin, selasa, rabu, beliau ke Barat ke SMA 3 yang berjarak 15 km dari rumahnya, Hari kamis, jumat, Sabtu beliau ke Timur kesekolahku yang berjarak 18 km dengan mengendarai Honda Star yang sudah karatan, beliau juga bercerita motor itu beliau beli dengan uangnya sendiri, dengan menabung bertahun – tahun demi mempersunting bu Salma bunga desa itu, sudah 25 tahun pernikahanya, mareka dikaruniau 3 orang anak dan semuanya laki – laki yang bungsu seumuran denganku, aku tahu perjuangan beliau guru swasta yang menghidupi 3 orang anak, bahkan saat menjelang ujian kelulusan beliau tanpa henti memberikan bimbingan tambahan kepada siswanya sampai kadang – kadang bolak balik dari SMA 3 ke sini, hitung sendiri berapa jauhnya, hanya untuk tambahan uang yang tak seberapa, itu semua tidak sebanding dengan perjuangan beliau.

“Aya… Kok bengong, masih siap bantu bapak tidak.” Pak herman menyapaku dengan senyum khasnya

“Kalau sudah capek pulang saja, biar nanti bapak koreksi sendiri di rumah.” Kata pak herman masih dengan senyum lembutnya.

“Ah tidak kok pak, aya selalu siap Bantu bapak.” Aku pun tersenyum walaupun tidak manis.

Aku ngantuk banget, Nah… ini lembar jawaban yang terakhir, habis ini aku bisa pulang dech, pak Herman pamit keluar sebentar, sebenarnya kami sudah selesai mengoreksi tapi terpaksa menunggu beliau sampai kembali.

“Ay… dapat salam tu dari si Iyan, katanya smsnya tadi malem nggak loe balez ya…kenapa sich ay loe kok jutek banget sama Iyan, cowok sekeren itu loe jutekin, apa gara-gara kemaren sore dia kempesin ban sepeda loe, itu kan niatnya bercanda ay… Supaya loe mau diboncengin sama Iyan.” Cerocos lena yang sejak tadi di sampingku.

“Ngapain sich kita mbahas Iyan yang nggak penting itu.”

“Ya udah kalau nggak mau, nanti kalo udah di sabet orang aja, baru nyesel.” Lena pergi meninggalkanku.

Iyan… Cowok SMA 3 itu… keren sich, tapi aku nggak suka sikapnya yang terlalu agresif kepadaku, ketika berbicara di majelis dia berwibawa plus cool banget, tapi nggak tahu ya kalau sama aku nyebelin banget.

Ku kirim salam sewangi minyak kasturi

Salam indah seindah langit waktu senja

Salam sejuk sesejuk embun pagi

Salam hangat, sehangat mentari kala pagi

Satu yang ingin kusampaikan lewat salam ini

Maaf yang tulus dari hati

Sms itu dikirim Iyan tadi malam, kemaren sore saat les bahasa aku marah kepadanya karena dia kempesin ban sepedaku, tak sengaja aku menulisnya di salah satu tugas yang aku koreksi tadi, dan tugas itu dibawa pak herman, saat pulang aku baru menyadarinya.

***

Hari ini Pak Herman meminta kami mengoreksi lagi, aku tak sanggup menolaknya, beliau bilang akan meminjamkan novelnya, aku senang banget, Pak Herman memang hoby mengoleksi novel, novelnya banyak… banget, dari Siti Nurbayanya Marah Rusli sampai Maryamah Karpovnya Andrea Hirata. Beliau bilang putranya tidak bisa membantu beliau mengoreksi tugas, putranya yang pertama sudah berkeluarga, yang kedua kuliah di luar kota, dan yang terakhir agak tulalit gitu, eh maksudku keterbelakangan mental.

Hari ini beliau menraktir kami makan bakso di kantin, beliau bilang dapat rizki lebih karena baru saja mendapat kiriman dari putranya yang kuliah sambil kerja di luar kota, setelah itu kami mambantu beliau mengoreksi, ada setumpuk tugas dari SMA 3 yang siap dikoreksi, aku mulai mengambil satu per satu tugas yang di berikan pak herman, dan… ada yang aneh dengan tugas yang satu ini, ini kan tugas matematika, kenapa ada kata- katanya gini ya…

“Len… liat dech.” Aku memperlihatkanya kepada lena

Malam ini ingin ku sampaikan salamku pada semua bintang di langit

Tapi semua percuma, karna mereka nggak mungkin bisa mendengar

jadi kuputuskan tuk sampaikan salamku pada bintang yang gak buta huruf

Dan kamu bintang yang kupilih.

“Tugas siapa sich ay… sok sweet banget, eh ngomong – ngomong buat siapa ya salamnya ini.”

“Tau… buat kamu kalee…he… he… he…” ups… kata pak ustadz nggak boleh tertawa kenceng – kenceng.

“Terserah loe dech, nggak ada ruginya buat gue.” Lena pergi meninggalkanku, aku memperhatikan tugas itu.

Rizky ardiansyah, aku pernah mendengar nama ini, apa… tugas dia yang aku coret – coret kemaren ya…, iya… aku ingat tanda tanganya, apa mungkin… dia terkesan dengan kata – kataku dan sengaja membalas salamku, dan berharap aku membalasnya lagi, ye… tukang ngayal, mana dia tahu yang menulis itu aku, bisa saja pak herman. Tapi kok dia mengambil resiko menulis di tugasnya, apa dia nggak berfikir kalau nanti pak herman yang membacanya bisa berabe khan, ah ngapain sich aku mikirin tugas yang nggak penting ini…

Dan pada kesempatan mengoreksi berikutnya hatiku tergerak untuk mencari tugas Rizky Ardiansyah lagi, dan… aku kaget, mengapa ada lagi…

Aku Ingin menulis sesuatu tentang rinduku

Tapi aku tak ingin menulis apapun tentangmu

Kamu tahu, ini hal yang sulit

Karna kamu juga tahu

Jika seluruh rinduku selalu untukmu

Akhirnya aku punya ide untuk membalas kata-kata itu, dengan begitu aku bisa tahu siapa yang dimaksud Rizky.

Bagaimana aku bisa tahu rindumu

Jika kamu tak pernah menulisnya

Bagaimana aku tahu itu untukku

Jika kamu tak pernah isyaratkanya

Seperti Syair yang tak terdendangkan

Seperti lagu yang tak ternyanyikan

Aku menulisnya di lembar tugas rizky yang masih kosong dan berharap dia membalasnya lagi, aneh… aku jadi suka banget mengoreksi, bukan karena ingin meminjam novelnya pak herman, tapi karena ingin melihat tugasnya rizky, jika ada waktu mengoreksi pasti yang pertama aku cari tugas Rizky seperti kali ini, dan… seperti perkiraanku pasti ada lagi.

Aku ingin menulisnya pada selembar daun

Tapi aku takut daun itu akan gugur karena kering dan akhirnya busuk oleh tanah

Aku ingin menulisnya pada Selembar kertas

Tapi aku juga takut ia akan luntur oleh air hujan

Dan yang paling aku takutkan jika kamu tidak mau membacanya

Jadi kuputuskan untuk Tuliskan rinduku dihati saja

Dan kan kujaga  ia hingga takbisa apa atau siapa pun yang mampu menghapusnya

“Len liat dech…” Aku memperlihatkan lagi pada lena.

“So Sweet… Aya… Mungkin nggak jika si Rizky ini terpesona sama loe… jadi dia kirim pesan lewat tugasnya ini, coba fikir pesan cinta lewat tugas Matematika, So Sweet… gue jadi pengen… kenapa nggak ada yang kirim buat gue ya…” kata lena sambil mengipas – ngipas padahal kali ini sedang mendung dan sama sekali tidak gerah.

“Lena sayang… dari mana kamu tahu kalau pesan itu buat aku… aku kan belum pernah bertemu sama dia. Nggak mungkin kan”

“Aya… nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, bukankah loe bilang juga sering tulis pesan di tugasnya, siapa tahu Allah kirim Pangeranmu lewat tugas ini.” kata lena masih dengan mengipas – ngipas

“Plis dech Len berhenti ngipasnya, kecentilan banget sich, kayak nggak ada kerjaan lain ajah.”

“Oh ya ay… kira-kira si Rizky ini kayak apa ya…” Lena berhenti mengipas dan sekarang berfikir sambil menaruh telunjuk ke keningnya persis gayanya Einstein di poster-poster itu “Em… pasti dia… keren… Rapi, rajin… pinter… Kayak gitu dech pokoknya.”

“Ngayal kamu… kalau dia gendut, trus item karna jarang mandi, di tambah lagi pakek kacamata tebal minus kayak si basir itu gimana…” Kataku sambil tersenyum

“He.. he… iya juga ya… tapi yang jelas kalau memang kayak basir, bukan aku yang rugi, kan elu yang dapat pesan itu, he… he…” Lena emang nggak bisa di bilangin, ketawanya kenceng amat.

“Em… gimana kalo kita Tanya Iyan aja, Iyan kan juga sekolah di SMA 3 kelas 3 pula.”

“Bisa nggak kita nggak mbahas Iyan.” Kataku dengan membalikkan muka

“Sewot lagi… ye maap.”

Lalu aku menanyakan pada pak Herman, kali ini aku nggak ngajak Lena, dia itu mulutnya nggak bisa diam, pasti nanti anak-anak tahu semua tentang pesan itu.

“Rizky ardiansyah, dia itu termasuk siswa teladan di kelas bapak, dia rajin mengerjakan tugas, Kreatif, Nilainya di atas rata-rata kelas.” Kata pak herman tanpa meninggal senyumnya yang khas.

Nggak banyak yang dikatakan pak Herman tapi seperti menyihir hatiku, Aku jadi kagum dengan sosok Rizky Ardiansyah, ingin sekali berjumpa dengan dia, diam-diam dia mampu menempati ruang yang aku sendiri tidak tahu itu dimana, yang jelas aku selalu rindu dengan tulisanya, dia mampu membuatku menyukai hal yang sebenarnya tidak kusukai MENGOREKSI

***

Hari ini sebenarnya aku agak sakit, tapi aku tetap kesekolah, karena pak herman bilang mau meminta bantuanku mengoreksi lagi, hah… demi hatiku apa sich yang nggak, tapi…pak herman sich pakek lupa bawa tugasnya segala, sia-sia dech pengorbananku. Pak Herman menyuruhku mampir kerumah beliau untuk mengoreksi, terang saja Lena langsung sorak soalnya dapat kesempatan ketemu Rudi penjaga Counter depan rumah pak herman itu, menurut Lena dia ganteng abiz, kayak Kiki Varel, anak itu centilnya nggak ilang-ilang, padahal mestinya aku yang seneng, aku kan yang menanti tugasnya Rizky. Biasanya aku males banget ke rumahnya pak Herman, males ketemu si bungsu yang rada tulalit itu.

“Aya… aya… temenin Alman maen kapal-kapalan donk, nanti alman kacih pelmen.” Kata arman manja.

Arman selalu minta ditemenin aku, aneh… kenapa nggak Lena saja ya… biar kapok tu si Lena.

“Arman ayo kedalam maen sama ibu saja.” Kata bu salma yang baru saja keluar dari kamar.

“Nggak mau… Alman maunya maen sama aya, aya mau kan maen sama alman.”

“Iya… tapi aya mau ngerjain tugas dulu, sekarang arman maen sama ibu dibelakang. Ya…”

“Benel ya…nggak boleh bo’ong.”

Aku tak tega melihat Arman, seharausnya dia di sini bersama kami, belajar bersama, membantu pak herman mengoreksi, tapi anak itu terperangkap di jiwa anak kecil, tapi pak Herman sama sekali tidak minder dengan keadaan putranya, aku salut dengan beliau.

Heh… demi Rizky aku rela dikejar-kejar arman gara-gara ngambil tugasnya yang dipakek kapal-kapalan sama arman, tapi itu semua nggak sia-sia, ada puisi singkat tapi manis dari Rizky yang kutemukan di tugasnya.

Bisa saja pelangi kehilangan warna

Bisa saja hujan kehilangan tetes air

Tapi tak bisa jika aku kehilangan kamu

Jangan pernah hilang dariku

Meski dalam mimpi

Oh Rizky… seperti apa sich kamu, begitu mudah menyihir hatiku… mungkin bener kata Lena, So Sweet… Loh kok… aku ikut kecentilan seperti Lena.

Ini semua harus berakhir, aku tidak mau terus menerus memikirkan orang yang sama sekali belum aku kenal, bagaimana jika ia tak seperti yang aku inginkan, bagaimana jika aku kecewa di kemudian hari, Akhirnya kuputuskan untuk menulis nomer HP ku ditugasnya dan berharap ia mau menghubungiku.

Biarpun warna kan meninggalkan pelangi

Meskipun Tetes air kan meninggalkan hujan

Tapi… ingatlah, ku tak pernah berfikir tuk tinggalkanmu

Meski dalam mimpi

Meski semua orang meninggalkanku sendiri

Please Call me in 085257442xxx

***

Kalau dulu aku paling tidak suka mengoreksi, tapi sekarang tidak lagi, kamu tahu apa yang paling tidak aku sukai sekarang, MENUNGGU ya menunggu dengan waktu yang tak jelas. Hampir satu minggu tapi rizky belum juga kasih kabar, mungkinkah tugas itu belum dibagikan oleh pak Herman, atau mungkin tugas itu dipakai kapal-kapalan lagi sama Arman hingga tidak sampai ke tangan Rizky, kalau sampai itu terjadi awas Arman aku nggak mau nemenin kamu maen lagi, mungkinkah Rizky tidak menghiraukan pesanku. Kepalaku pusing dengan kemungkinan-kemungkinan itu.

Dering HP ku memecah keheningan malam, tanganku meraba-raba meja dekat tempat tidurku, aku masih ngantuk, siapa sich jam 02.00 begini kirim pesan, “Ku kirim salam sewangi minyak kasturi……” aku kaget, siapa sich ini, nomernya tidak ada dalam daftar telephon, pasti Iyan ini kan sudah pernah di kirim kepadaku kemaren, kurang kerjaan banget dini hari gini kirim pesan, aku tak mengahiraukan pesan itu, kutarik selimutku dan bersiap melanjutkan mimpiku yang sempat terpotong tadi, ups… tiba-tiba aku ingat, bukankah pesan ini yang pertama kali kutulis di tugasnya rizky, mungkinkah ini rizky, bukankah ini nomer baru, aku segera bangkit dari tidurku, tanpa fikir panjang aku langsung membalas pesan itu persis yang ditulis rizky berikutnya “Malam ini ingin kusampaikan salamku pada semua bintang di langit…”, dan… ternyata memang Rizky, mulailah kami berkenalan cerita ini-itu dan yang sering menjadi topik pembicaraan kami tentu saja pak herman yang baik itu, ternyata beliau juga sangat disayangi di SMA 3, Rizky emang asyik diajak SMSan

Di suatu siang Rizky kirim pesan yang intinya meminta bertemu, tentu saja aku bingung, iya sich aku pengeeen banget bertemu dia, tapi… aku belum siap, tahu sendiri khan kalau mau bertemu orang yang dianggap penting, mesti persiapan lahir batin.

“Mau aja Ay… nunggu apa lagi sich, sebentar lagi dia lulus SMA iya kalo dia tetep di sini, kalo keluar kota atau malah keluar negeri, penasaran seumur hidup baru tau rasa loe.” Lena memberi saran kepadaku, kali ini ada benarnya juga Lena.

“Tapi kamu temenin aku ya Len… Please…” aku meminta pada lena sambil menangkupkan kedua tanganku.

“Oke… itu mah gampang, cuman ada cowok cakepnya nggak.” Lena mengipas-ngipas ringan, kebiasaan lena yang satu ini nggak bisa hilang kali.

“kalau cuman cowok cakep nanti bakal ada seabrek, kamu tahu khan SMA 3 akan mengadakan bedah novel, Rizky jadi panitianya, nanti rencananya Rizky akan kasih undangan lewat pak Herman, em… nanti aku minta 2 dech undanganya, tapi inget ya len ini acara resmi jadi kamu harus sopan, satu lagi buang jauh-jauh kebiasaan kamu ngipas-ngipas itu.” Kataku seperti pak Ahmad Rais yang sedang berkhotbah jumat lalu.

“Bedah novel tanggal 15 minggu depan itu… sorry ya ay… tanggal 15 gue mau shoping sama tante gue.”

“Ih… Lena… jadi aku lebih penting dari Shoping.” Kataku sedikit marah, sebenarnya aku nggak bisa marah sama Lena.

“Sekali lagi maafin gue ay… loe tahu sendiri khan tante gue jarang kerumah, ini kesempatan gue bisa belanja gratis, lain kali dech, kalau mau ketemu siapa aja gue temenin ketemu pak Rudi guru Bahasa Inggris yang galak itu juga gue siap.”

“Ya sudah nggak apa-apa.”

Aku kecewa banget sama lena, kalau ada PR Matematika pasti dia nggak pernah absen minta jawabanku, kalau dibutuhkan malah shoping, aku pergi sama siapa ya… aku khan belum pernah ke SMA 3.

“Aya… datang ke acara Bedah Novel di sekolahku minggu depan ya…” kata Iyan pada suatu sore saat les bahasa.

Masa iya aku datang sama Iyan, sama aja bohong donk, aku khan pengen ketemu Rizky, masa datang sama cowok nyebelin ini, nanti kalo Rizky berfikir macam-macam gimana.

“Ye… sorry ya… aku nggak level datang ke acara begituan, apa lagi yang ngundang kamu.” Dengan ketus aku menjawabnya dan langsung pergi meninggalkan dia.

Hari ini jam 08 pagi acara bedah novel itu, dari habis subuh aku sudah mondar-mandir di depan kaca, mempersiapkan diri, tak lupa pula baju yang akan ku pakai sudah ku seterika sampai licin. Baju, rok, juga jilbab berwarna Pink semua. He… he… memang kami janjian pake baju yang serba pink biar mudah ngenalinnya gitu, kalo aku masih mecing cewek pakek pink, tapi dia… lucu kale. Tapi nggak apa-apa orang dia yang minta kok.

Mana sich Rizky. Sudah 20 menit aku disini nggak ada teman yang diajak ngomong lagi, kayak orang linglung, dia kan bilang mau menungguku di secretariat pendaftaran peserta tapi dia kok belum nongol juga, ups… ada si Iyan lagi, ternyata dia juga jadi panitia… eh tapi keren lo pakek seragam jas begitu Cool banget. Loh kok… Lena datang juga, Brengsek Lena tega-teganya ngerjain aku, diminta temenin nggak mau malah sudah nongol duluan. Itu anak mesti dikasih pelajaran, awas nanti kalau ada PR Matematika nggak bakal aku contekin dia.

“Pagi Cantik…” sapa Iyan dan lena yang menghampiriku.

“Pagi…” jawabku ketus

“Cinderella kok jawabnya ketus gitu, lagi nungguin siapa… pangeranya ya…” kata Iyan

“Iya… yang jelas bukan nungguin kamu.”

“Ah yang bener…” kata Iyan sambil membuka jas yang dipakainya, dan…. Aku kaget bukan main, ternyata baju yang dipakai Iyan berwarna Pink, Nggak heran sich itu cowok memang suka banget warna Pink, Cowok aneh. Tapi… jangan-jangan dia… aku tak berani membayangkan jika Rizky Itu ternyata Iyan.

“Aku ingin menulis sesuatu tentang rinduku, tapi aku tidak ingin menulis apapun tentangmu…”

“Stop… jadi ternyata kamu…” aku membentak Iyan

Belum selesai Iyan berbicara aku sudah mau pingsan rasanya, ternyata dia memang Rizky, mungkin mereka sudah merencanakan semuanya, Iyan, Lena, mungkin juga pak Herman, awas mereka tega-teganya ngerjain aku, tapi… kenapa aku nggak pernah curiga ya…

“Oh Rizky… ternyata kamu Iyan… He… he… he….” Lena mengejekku, aku langsung menginjak kakinya.

“Wadowh… sakit ni….”

Aku nggak pernah mengira jika akhirnya begini, aku memang bodoh. Aku tidak permah menyangka jika Rizky Ardiansyah itu di panggilnya Iyan. Kalau sudah begini, aku nggak tahu perasaanku sama Iyan seperti perasaanku sama Rizky atau tidak, bagiku mereka adalah 2 orang yang berbeda. Mungkin sampai kapanpun akan begitu, tapi…. Iyan keren juga. Kata Lena mirip Dude Herlino, Apa…. Dude Herlino waktu bangun tidur kali…

Kedungadem, 10 Maret 2009